Kamis, 20 November 2014

Dinasti masa cina kuno



Dinasti-dinasti yang berkuasa pada masa Cina kuno.
Dinasti Shang (1766-1122 SM)
Dengan masuknya Dinasti Shang menandai masuknya China ke zaman sejarah. Pada awalnya Shang adalah nama sebuah suku yang mendiami salah satu bagian sungai Huang he dan merupakan bawahan dari dinasti Xia. Kaisar Tang yang merupakan pendiri dinasti Shang adalah keturunan ke-14 dari Xia.  Sebelum menumbangkan Dinasti Xia, Tang adalah seorang Fan bo atau raja bawahan dinasti Xia. Setelah menggulingkan dinasti Xia, Tang mendirikan dinasti Shang, serta menjadikan Bo sebagai ibukotanya. Tang mempelajari kesalahan pendahulunya, sehingga tidak memperlakukan rakyatnya secara semena-mena, serta banyak mempekerjakan menteri baik dan bijaksana. Oleh karena itu pada masa pemerintahanya terjadi kemajuan yang pesat.
a.  Perkembangan Seni, Teknologi, dan Sosial Budaya
Peninggalan utama Dinasti Shang adalah apa yang disebut dengan tulang-tulang ramalan, yaitu tulisan pada tulang dan tempurung kura-kura. Pada masa dinasti Shang tulang-tulang itu digunakan untuk meramal dan menanyakan pada para dewa serta roh nenek moyang. Tulang-tulang itu dibakar setelah pertanyaan di tuliskan di atasnya dan orang pada zaman itu percaya jawabanya ditafsirkan dari retakan tulang tersebut.
Kemajuan  Dinasti Shang yang adalah dalam bidang peternakan dan pertanian yaitu mereka telah mengembangkan teknologi tinggi dalam menanam jewawut, gandum dan jelai. masyarakat Shang juga telah mengembangbiakan ulat sutera, babi, anjing, domba, dan sapi. Berdasarkan hasil penggalian, ditemukan betapa majunya dinasti Shang dalam membuat barang-barang dari perunggu, seperti bejana dan senjata.
Pada masa Dinasti Shang berkembanglah sistem perbudakan, di mana kaum bangsawan hidup dalam kemewahan, sementara kaum budak hidup dalam kondisi yang sangat buruk. Setelah pemilik budak meninggal, maka budak-budaknya juga dikubur hidup-hidup sebagai korban bersama-sama dengan persembahan berupa hewan. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan di sini. Para budak, tidak seperti halnya perbudakan di Tibet, Amerika atau tempat lainnya, perbudakan yang terjadi adalah seseorang menjual dirinya kepada seorang majikan sebagai pelayan seumur hidup, jadi mereka diperlakukan sebagai pelayan secara manusiawi dan mengganti marga mereka sesuai dengan majikannya. pengertian dikubur hidup-hidup harus dijelaskan bahwa yang bersangkutan ikut dikubur sebagai pelayan, tidak langsung mati saat dikubur, kuburan orang kaya di Tiongkok besar sekali ukurannya, bisa sebesar rumah bahkan lebih dalamnya, jadi para pelayan itu ikut masuk di dalam kuburan dan duduk di ruangan pelayan, dan disediakan lampu minyak sebagai penerangan dan makanan serta minuman untuk beberapa saat, kalau makanan dan minumannya habis baru mereka mati.

Dinasti Zhou (1066 SM - 221 SM)
Dinasti Zhou adalah dinasti terakhir sebelum Cina resmi disatukan di bawah Dinasti Qin. Dinasti Zhou adalah dinasti yang bertahan paling lama dibandingkan dengan dinasti lainnya dalam sejarah Cina, dan penggunaan besi mulai diperkenalkan di Cina mulai zaman ini. Sesuai tradisi feodal Cina, para penguasa Zhou mengantikan Dinasti Shang (Yin) dan mengesahkan aturan yang menetapkan mereka sebagai mandat langit, dimana para penguasa memerintah atas mandat dari langit. Bila mandat dari langit dicabut, rakyat berhak menggulingkan penguasa tadi. Perintah langit ditetapkan oleh asumsi nenek moyang Zhou, Tian-Huang-Shangdi, berada di atas nenek moyang Shang, Shangdi. Doktrin ini menjelaskan dan membenarkan kekalahanDinasti Xia dan Shang, dan pada waktu yang sama mendukung hak kekuasaan para penguasa sekarang dan masa depan.
Dinasti Zhou didirikan oleh keluarga Ji () beribukota di Hao (, sekarang di sekitar Xi'an), meneruskan corak budaya dan bahasa dari dinasti sebelumnya, ekspansi Zhou pada awalnya adalah melalui penaklukan. Secara berangsur-angsur Zhou memperluas budaya Shang sampai ke wilayah utara Sungai Panjang.
Pada awalnya keluarga Ji mengendalikan negara Zhou secara terpusat. Pada tahun 771 SM, setelah Raja You (周幽王) menggantikan ratunya dengan Selir Baosi, ibukota diserang oleh kekuatan gabungan dari ayah ratu, pangeran Shen yang bersekutu dengan suku-suku asing. Kemudian, putra sang ratu, Ji Yijiu (姬宜臼) dinaikkan menduduki tahta sebagai raja baru oleh para bangsawan dari negara Zheng, Lü, Qin dan pangeran Shen. Ibukota negara kemudian terpaksa dipindahkan ke sebelah timur di tahun 722 SM, tepatnya ke Luoyang di propinsi Henan sekarang.
Pembagian Dinasti Zhou Barat dan Zhou Timur[
Oleh karena pemindahan ibukota ini, para sejarahwan kemudian membagi Dinasti Zhou menjadi Dinasti Zhou Barat (西周) dari akhir abad ke-10 SM sampai dengan tahun 771 SM, serta Dinasti Zhou Timur (東周) dari tahun 770 SM sampai dengan tahun 221 SM. Tahun permulaan Zhou Barat tetap masih dalam perdebatan, antara – tahun 1122 SM, tahun 1027 SM atau tahun lain dalam ratusan tahun dari akhir abad ke-12 SM. Pada umumnya, sejarawan Cina menetapkan tahun 841 SM sebagai tahun awal mula dari tahun pemerintahan Dinasti Zhou dalam sejarah Cina.
Berdasarkan sejarahwan Cina terkenal, Sima Qian di dalam karya tulisnya Catatan Sejarah Agung, Zhou Timur dibagi lagi dalam dua zaman yaitu Zaman Musim Semi dan Gugur dan Zaman Negara-negara Berperang.
Kemunduran
Setelah perpecahan di pusat kekuasaan, pemerintah Zhou makin lemah dalam menjalankan pemerintahan. Setelah Raja Ping (周平王), raja-raja Zhou yang kemudian berkuasa tidak memiliki kekuasaan yang nyata karena kekuasaan sebenarnya ada di tangan para bangsawan yang kuat. Mendekati penghujung Dinasti Zhou, para bangsawan tidak meletakkan lagi eksistensi keluarga Ji sebagai simbol pemersatu kerajaan dan masing-masing mengangkat diri mereka sendiri sebagai raja. Dinasti Zhou pecah menjadi beberapa negara kecil-kecil yang bertempur satu sama lainnya. Zaman ini kemudian terkenal sebagai Zaman Negara-negara Berperang, di mana kemudian diakhiri dengan penyatuan Cina di bawah Dinasti Qin.
Pertanian
Pertanian di Dinasti Zhou sangat intensif dan dalam banyak kesempatan diarahkan langsung oleh pemerintah. Semua tanah pertanian dimiliki oleh para bangsawan, yang kemudian memberikan tanah mereka kepada budak mereka. Sebagai contoh, suatu lahan dibagi menjadi sembilan bujur sangkar dalam ukuran jing (), dengan hasil gandum dari pertengahan bujur sangkar diambil oleh pemerintah dan sisanya disimpan oleh petani. Dengan cara ini, pemerintah bisa menyimpan surplus makanan dan mendistribusikan kembali pada waktu kelaparan atau panen tidak baik. Beberapa sektor manufactur penting selama periode ini termasuk kerajinan perunggu, yang di integralkan dalam pembuatan senjata dan perkakas pertanian. Sekali lagi, industri ini dikuasai oleh bangsawan yang mengarahkan material produksi.

Dinasti Chin (221-27 SM)

Tiga puluh tahun setelah Dinasti Chou berakhir, negara vassal Chin di bawah pimpinan Cheng berhasil menaklukkan 6 negara vassal yang lain, dan selanjutnya mendirikan Dinasti Chin. Setelah berkuasa, Cheng menggunakan gelar Shih Huang Ti. Raja Cheng menganggap dirinya lebih kuat dari Tiga Raja dan Lima Kaisar. Untuk menunjukkan kebijaksanaan dan kepandaiannya ia menggunakan gelar Huang Ti, dalam gelar ini terhimpun gelar Tiga Raja dan Lima Kaisar tersebut. Sebutan Huang Ti pada umumnya sama dengan Kaisar.
Dinasti Chin penting dalam Sejarah Cina karena dinasti inilah yang berhasil mencetuskan sistem pemerintahan kekaisaran yang dapat berlangsung sampai awal abad ke-20. Di bawah pemerintahan Shih Huang Ti, seluruh wilayah Cina berhasil dipersatukan.
Shih Huang Ti memegang pemerintahan sejak usia 13 tahun. Salah satu keberhasilannya adalah ia dapat mempersatukan seluruh Cina. Keberhasilan Shih Huang Ti ini dipengaruhi oleh wilayah Dinasti Chin yang terletak di antara Shensi dan Kansu, letak ini memungkinkan Dinasti Chin mudah menyerang tetapi sulit untuk diserang. Selain itu karena ia mempunyai banyak ahli tata negara yang pandai seperti Hertog Mu dan Hertog Hsiao.
Dinasti Chin dibangun di atas konsepsi ajaran golongan legalitas di bawah pimpinan Perdana Menteri Shang Yang, sehingga Kerajaan Chin menjadi kuat. Pada 214 SM, Dinasti Chin berhasil mengadakan ekspansi ke Chekiang, Fukien, dan Kwangtung sampai Sungai Merah di Indocina. Kemudian pada 215 SM, ekspansi dilanjutkan ke daerah Hunan, Szechuan, Kwelchow, bahkan sampai ke Korea.
Penasehat utama Kaisar Shih Huang Ti adalah Li Ssu, murid dari Shun Tze. Yang diingat Li Ssu dari ajaran gurunya, hanyalah bagian yang menyatakan bahwa sifat manusia pada dasarnya buruk dan ia berharap untuk memperbaiki sifat tersebut dengan memberikan hukuman-hukuman yang berat.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Shih Huang Ti:
1.       Membangun Tembok Besar yang terkenal dengan nama The Great Wall, Tembok Raksasa atau Wan Li Chang Cheng untuk menahan serangan bangsa barbar (bangsa Hsiung Nu). Panjang tembok ini kurang lebih 10.000 li atau 6.450 km. Tembok ini dibangun memanjang dari barat daya yaitu dari wilayah Kansu, melintasi Sunga Hoang Ho dan masuk wilayah Mongolia Dalam, menembus ke arah selatan ke Shensi dan Hopei dan membelok ke arah timur sampai ke Teluk Liaotung di Lautan Pasifik.
2.       Menghapuskan feodalisme dan membentuk pemerintahan yang bersifat sentralisasi.
3.       Mengadakan pembakaran terhadap buku-buku kuno karya Kung Fu Tze kecuali buku tentang pertanian, pengobatan, dan ramalan.
4.       Penyeragaman tulisan di Cina.
5.       Penyeragaman ukuran, timbangan, perkakas pertanian, ukuran roda dan sebagainya.
6.       Membangun jalan raya, jembatan, dan saluran air.
7.       Benteng-benteng yang tidak digunakan di daerah dimusnahkan agar tidak terjadi pemberontakan.
Pada 210 SM Shih Huang Ti meninggal dunia. Ia meninggal dalam perjalanan. Meninggalnya kaisar dirahasiakan selama rombongan belum sampai di istana, karena dikhawatirkan akan timbul pemberontakan akibat masa pemerintahannya yang penuh kekejaman. Untuk mengelabui masyarakat, seorang hamba istana didudukkan di kereta tertutup yang memuat peti jenazah kaisar, selama perjalanan ia berlaku sebagai Shih Huang Ti dengan memberikan jawaban atas laporan para opsir.
Sebelum Shih Huang Ti meninggal, ia telah menulis surat yang mengangkat Fu Ssu, puta sulungnya sebagai penggantinya. Namun, pada saat itu timbul komplotan yang terdiri dari Li Ssu (penasehat utama Shih Huang Ti) dan Chao Kao yang membuat surat palsu. Surat palsu tersebut ditujukan kepada Fu Ssu, agar ia bunuh diri. Selanjutnya komplotan ini mengumumkan sabda kaisar palsu, yang mengangkat Hu Hai, putra kedua kaisar sebagai pengganti Shih Huang Ti. Hu Hai memegang pemerintahan dengan gelar Erl Shih Huang Ti yang berarti kaisar kedua. Pemakaian gelar tersebut sebenarnya didasarkan atas perintah Shih Huang Ti yang ingin melihat sejarah Cina dimulai dari kejayaannya sebagai kaisar pertama. Kemudian dilanjutkan anaknya sebagai kaisar kedua, cucunya sebagai kaisar ketiga, dan seterusnya.
Dalam hal pembawaan dan kesombongan, Erl Shih Huang Ti mempunyai kemiripan dengan ayahnya. Namun, ia tidak cakap dalam hal pemerintahan, bahkan ada di bawah pengaruh komplotan Chao Kao dan Li Ssu. Akhirnya timbul kekacauan di Istana akibat pemalsuan Surat wasiat. Chao Kao membunuh pembantu-pembantu Shih Huang Ti seperti Meng Tien dan Li Ssu. Bersamaan dengan kekacauan ini, muncul pemberontakan yang dipimpin Chen She. Latar Belakang dari pemberontakan ini adalah rombongan mereka datang terlambat untuk membuat tembok di daerah utara. Padahal ada sanksi, siapa yang datang terlambat akan dijatuhi hukuman. Sebelum hukuman dijatuhkan rombongan ini memutuskan untuk memberontak terlebih dahulu. Pemberontakan ini akhirnya dapat diredam.
Pada 207 SM Erl Shih Huang Ti dibunuh oleh Chao Kao. Sebagai penggantinya diangkatlah cucu Shih Huang Ti yaitu Tze Ying. Tze Ying mengetahui perbuatan Chao Kao yang keji, ia akhirnya memutuskan untuk membunuh Chao Kao beserta keluarganya. Situasi kerajaan semakin bertambah kacau karena hal ini. Kekacauan ini dimanfaatkan oleh pemberontak untuk merebut tahta kerajaan.
Pemberontakan di bawah pimpinan Hsiang Yu berhasil memasuki istana dan membunuh Tze Ying. Dengan meninggalnya Tze Ying, maka berakhirlah Dinasti Chin yang hanya bertahan selama 15 tahun setelah Shih Huang Ti meninggal.



Dinasti TanG


Dinasti Tang (618 - 907) adalah satu dari tiga dinasti yang paling berpengaruh di Cina sepanjang sejarahnya. Dinasti Tang menggantikan Dinasti Sui yang berumur pendek, didirikan oleh keluarga Li. Li Yuanmendirikan dinasti ini pada tahun 618 dan menetapkan Chang'an sebagai ibukota dinasti ini. Di tengah masa kejayaan dinasti ini, ada masa 15 tahun di mana Kaisar Wu Zetian memaklumatkan Dinasti Zhou kedua. Kaisar Wu Zetian merupakan kaisar wanita satu-satunya di dalam sejarah kekaisaran Cina.
Nama Tang sendiri berasal dari nama kuno daerah Jin yang sekarang menunjuk kepada provinsi Shanxi. Setelah Dinasti Tang berdiri keadaan tidaklah langsung aman. Selama kurang lebih enam tahun kekacauan yang diakibatkan oleh pertikaian antar berbagai fraksipun berkecamuk. Li Yuan dengan dibantu puteranya Li Shimin berjuang keras untuk memulihkan perdamaian. Usaha ini akhirnya berhasil dan meletakkan dasar bagi kestabilan politik di sepanjang sejarah Dinasti Tang.
Pada masa kekuasaan Taizong hubungan antara timur dan barat makin terbuka dan Chang-an, ibu kota Dinasti Tang menjadi kota terbesar dan termegah pada jamannya. Salah satu prestasi terkenal pada masa kini adalah perjalanan Bhikshu Xuanzang (kembali ke Chang-an pada tahun 645) untuk mengambil kitab suci Tripitaka di India, dimana perjalanan ini mengandung semangat penjelajahan yang baru menghinggapi bangsa barat sekitar 600 tahun kemudian. Rute perjalanannya mirip dengan rute Marcopolo, sehingga Xuanzang terkadang disebut sebagai Marcopolonya Tiongkok.
Pengganti Taizong adalah kaisar-kaisar lemah. Berturut-turut Tiongkok diperintah oleh Gaozong (649 – 683), Zhongzong (684; 705 – 710), dan Ruizong (684 – 690; 710 – 712). Kaisar Gaozong adalah seorang yang lemah secara fisik, sehingga akhirnya sedikit demi sedikit kekuasaan jatuh pada selir kesayanganya yang ambisius, bernama Wu Zetian (690 – 705). Ketika Gaozong terkena stroke pada tahun 660 dan mengalami kebutaan serta kelumpuhan, Wu mulai bertindak atas nama suaminya di dalam memegang kekuasaan kenegaraan.
Setelah kematian suaminya, Wu mengangkat berturut-turut dua orang kaisar, yakni Zhongzong dan Ruizong sebagai kaisar boneka, sebelum akhirnya pada tahun 690, ia mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar dan menyebut Dinastinya dengan nama Zhou. Namun sayang sekali Wu lupa diri dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan moralitas di istananya. Penyuapan dan korupsi marak di mana-mana, sehingga sang kaisar wanitapun kehilangan simpati rakyat. Pada tahun 705 setelah gagal menyelamatkan kekasih-kekasihnya dari pembunuhan oleh pengawal istana yang marah, Ratu Wu turun tahta. Kaisar Zhongzong dan Ruizong naik tahta kembali, sehingga dengan demikian Dinasti Tang bangkit kembali.

Dinasti Han

Dinasti Han terbagi menjadi Dinasti Han Barat dan Dinasti Han Timur. Zaman Dinasti Han Barat dimulai dari tahun 206 Sebelum Masehi dan berakhir pada tahun 8 Masehi. Liu Bang, yang lazim disebut sebagai Han Gaozu adalah kaisar pertama Dinasti Han dengan Chang’an sebagai ibukotanya.
Selama 7 tahun berkuasanya, Kaisar Han Gaozu meningkatkan penguasaan sentralisasi pemerintah dan menjalankan serentetan kebijakan politik “pemberdayaan rakyat” sehingga kekuasaan negara menjadi lebih kokoh. Pada tahun 159 Sebelum Masehi, Kaisar Han Gaozu meninggal dan Kaisar Huidi naik takhta. Namun pada saat itu, kekuasaan sebenarnya dipegang oleh Permaisuri Lu Zhi yang berturut-turut berkuasa selama 16 tahun. Dengan demikian, ia juga menjadi salah seorang penguasa wanita yang jumlahnya tidak banyak dalam sejarah Tiongkok. Tahun 183 Sebelum Masehi, Kaisar Wendi naik takhta. Selama berkuasanya Kaisar Wendi dan kemudian Kaisar Jingdi, yaitu putranya antara tahun 156 Sebelum Masehi dan tahun 143 Sebelum Masehi mereka terus menjalankan kebijakan “pemberdayaan rakyat”, meringankan pajak yang sangat membebani rakyat sehingga ekonomi Imperium Dinasti Han berkembang makmur. Masa itu dipuji oleh sejarawan sebagai Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung.
Melalui pemulihan ekonomi pada Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung itu, kekuatan negara Dinasti Han berangsur-angsur menjadi perkasa. Pada tahun 141 sebelum Masehi, Kaisar Wudi naik takhta. Selama berkuasanya, ia mengirim Jenderal Wei Qing dan Jenderal Huo Qubing memimpin pasukan menangkis serangan pasukan Xiongnu, suku penggembala di bagian utara Tiongkok. Keberhasilan militer kedua jenderal itu memperluas lingkungan penguasaan Dinasti Han Barat dan menjamin perkembangan ekonomi dan kebudayaan bagian utara wilayah kekuasaan Dinasti Han. Kaisar Wudi pada masa usia lanjutnya menghentikan peperangan dan mengalihkan perhatiannya pada pengembangan pertanian sehingga ekonomi Dinasti Han Barat terus berkembang. Setelah itu, Kaisar Zhaodi naik takhta, kemudian terus berusaha mengembangkan ekonomi dan berkat upayanya itu, Dinasti Han memasuki masa emasnya.
Berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” selama 38 tahun pada masa berkuasanya Kaisar Zhaodi dan Kaisar Xuandi, kekuatan negara Dinasti Han meningkat, namun bersamaan itu, kekuatan daerah juga meningkat pada waktu yang sama dan sangat mempengaruhi kekuasaan Imperium Dinasti Han. Pada tahun 8 Masehi, seorang bernama Wang Mang merebut kekuasaan dan mengubah nama negara menjadi Xin, berarti berakhirnya kekuasaan Dinasti Barat dalam sejarah.
Dinasti Han Barat adalah salah satu imperium paling kuat dalam sejarah Tiongkok. Selama berkuasanya Dinasti Han Barat, berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” yang dimaksudkan untuk mengembangkan ekonomi, kehidupan rakyat stabil dan tenteram, ekonominya pun makmur. Dengan demikian pemerintahan Dinasti Han berjalan lancar dan stabil. Yang patut disebut ialah, Kaisar Wudi yang mulai berkuasa pada tahun 141 menerima usul Menteri Dong Zhongshu yang berisi “melarang segala aliran pikiran kecuali aliran Ru”. Sejak itu, Ajaran Ru menjadi teori penyelenggaraan negara yang selalu ditaati oleh berbagai dinasti pada hari kemudian.
Berkat kestabilan politik dan ekonomi, industri kerajinan tangan, perdagangan, kesenian humaniora dan ilmu pengetahuan alam semuanya mengalami perkembangan pesat. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, efisiensi produksi industri kerajinan tangan dengan metalurgi dan tekstil sebagai tulang punggungnya sangat ditingkatkan. Perkembangan industri kerajinan tangan juga memakmurkan perdagangan dan pada akhirnya terbukalah Jalan Sutra yang menjembatani pertukaran diplomatik dan perdagangan antara Dinasti Han dan negara-negara Asia Barat.
Dinasti Han Timur yang didirikan Liu Xiu, yaitu Kaisar Guangwu dimulai dari tahun 25 Masehi dan berakhir pada tahun 220 Masehi.
Pada tahun 25, Liu Xiu mengalahkan Wang Mang yang menggulingkan kekuasaan Han Barat untuk merebut kembali kekuasaan dan tetap menerapkan Han sebagai nama negara, tapi memindahkan ibukota dari Chang’an ke Luoyang Tiongkok Tengah. Pada tahun kedua berkuasanya, Kaisar Guangwu memerintahkan mengadakan reformasi terhadap kebijakan lama yang dijalankan oleh Wang Mang dengan membenahi tata tertib politik dan menciptakan enam jabatan Shangshu untuk menangani urusan negara. Sampai pada pertengahan abad kesatu Masehi, Dinasti Han Timur berangsur-angsur pulih kembali dan menjadi makmur seperti masa lalu berkat penyelenggaraan pemerintahan oleh tiga kaisar berturut-turut. Masa itu dipuji orang kemudian sebagai “pemulihan Kaisar Guangwu”.
Pada awal Dinasti Han Timur, berkat peningkatan lebih lanjut kekuasaan dan harmonisnya pemerintahan pusat dengan kekuatan lokal, negara semakin stabil dan mencapai taraf yang lebih tinggi daripada Dinasti Han Barat di bidang ekonomi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 105, seorang bernama Cai Lun menciptakan teknologi pembuatan kertas, suatu penemuan yang mengakhiri sejarah pemakaian kepingan bambu sebagai alat catatan. Sampai sekarang, teknologi pembuatan kertas masih sering disebut-sebut sebagai salah satu dari empat penemuan besar dalam sejarah Tiongkok. Di bidang ilmu pengetahuan, kalangan keilmuan Dinasti Han Timur dengan Zhang Heng sebagai wakilnya mencetak hasil yang sangat mengagumkan. Zhang Heng diperingati dalam sejarah karena penemuan globe dan alat pencatat dan pengukur gempa bumi. Selain itu, dokter terkenal dalam sejarah, Hua Tuo yang hidup pada masa akhir Dinasti Han Timur adalah dokter ahli bedah pertama yang melakukan pembedahan terhadap seorang pasien dengan menggunakan teknik pembiusan.




sumber : 

Ivan Taniputera. 2011. History of China. Yogyakarta: Ar-ruzz Media
Leo Agung S. 2012. Sejarah Asia Timur 1. Yogyakarta: Ombak.

SUPERSEMAR



Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.
Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.
Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.
Keluarnya Supersemar
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c6/Supersemar.jpg/220px-Supersemar.jpg
Supersemar
Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama "kabinet 100 menteri". Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden' Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak "pasukan liar" atau "pasukan tak dikenal" yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.
Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.
Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).
Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.
Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/89/Supersemar2.jpg/220px-Supersemar2.jpg
Supersemar2
Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai Supersemar itu tiba.
Beberapa Kontroversi tentang Supersemar
  • Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b7/Surat_Perintah_Sebelas_Maret_-_President_version.jpg/86px-Surat_Perintah_Sebelas_Maret_-_President_version.jpg
Supersemar Versi AD
  • Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c6/Supersemar.jpg/90px-Supersemar.jpg
Supersemar Versi Lain
  • Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar "Lho ini khan perpindahan kekuasaan". Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan dimana karena pelaku sejarah peristiwa "lahirnya Supersemar" ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf mengatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disimpan dalam sebuah bank.
  • Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan pistol ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu, bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.
  • Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya "A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto", seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak konstitusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana untuk menghindari kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakarta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta izin untuk datang ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno, tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan, sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.
  • Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.
  • Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan.
Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, Arsip Nasional telah berkali-kali meminta kepada Jendral (Purn) M. Jusuf, yang merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004, agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008, membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.
Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA PBL KURIKULUM MERDEKA

  MODUL AJAR   PENDIDIKAN PANCASILA   Disusun Oleh : Nama                : Dedek Erja Juniarti, S.Pd NIM                 : 2...